bismillaahirrohmaanirrohiim
Sekilas aku lihat seperti tulisan acak, tidak berpola. Tetapi ketika aku lihat lebih seksama. Wow..!! Rumus teori medan bo !!!. Ya Allah, ini rumus yang aku sedang coba untuk ingat-ingat. Ya Allah, alhamdulillah, terima kasih Engkau beri aku kemudahan. Seperti menemukan telaga di padang pasir yang tandus. Seakan suatu hal yang mustahil dan aku pertama seperti tidak percaya.
Ditengah kegembiraanku saat menemukan apa yang aku butuhkan itu. Dan disaat aku akan mulai kembali mengerjakan jawaban soal ujiannya. Tiba-tiba muncul bisikan-bisikan aneh dan saling berebut dalam hatiku.
Hey wan, ini bukan pertolongan Allah, ini adalah ujian buat kamu. Apakah kamu istiqomah menjadi mahasiwa yang jujur atau tidak !
Eh.. wan, sudah lanjutin kerjakan jawabannya. Kamu kan tadi berdoa, memohon pertolongan Allah, dari tadi malam kamu sudah banyak melakukan amal sholeh. Sudah tahajjud, tadi pagi kamu sudah juga sholat dhuha mohon pertolongan, mohon kemudahan. Nah giliran sekarang kamu mendapatkan kemudahan ngerjakan soal. Kenapa kamu bimbang. Ini pertolongan Allah Wan, berkat amal-amalmu selama ini.
Terus saja, bisikan itu saling berebut keputusanku. Masing-masing mengajukan alasan yang berbeda. Hampir saja aku bingung dibuatnya.
Jangan percaya wan, mana ada Allah membantu seseorang berbuat dosa. Wan mudah saja bagimu membedakan ini wan, menurutmu, dengan kamu mengerjakan soal berdasar rumus yag tertulis ini, di bangku mu ini nih,kamu sudah curang atau tidak? terus kalau kira-kira ketahuan pengawas apa boleh kamu wan ?
Eh wan, lagian bukan kamu yang nulis di meja ini kan ? Trus kamu dapat rumus-rumus ini setelah kamu beroda keras agar diberi jalan keluar oleh Allah. Nah ini nih, jalan keluarnya.. udah kerjain Wan. Keburu habis waktunya..
Ya Allah, mana yang harus aku ikuti, kerjakan atau tidak ya ? Kalau aku kerjakan aku takut curang. Tapi benar juga ya, kalau aku yang tulis rumus-rumus ini dibangku, dan sudah aku rencakan sejak awal, maka aku memang curang. Tapi kalau bukan aku yang tulis, terus dari awal aku sudah cari tempat yang tidak memungkinkan aku curang. Tiba-tiba ada hal seperti ini, maka sepertinya ini memang pertolongan Allah. Tapi tetap saja aku takut ketahuan.
Udah wan, bener katamu, ini bukan curang. Rizqi dari Allah, wong kamu nda rencanakan trus kamu dapat sekarang ko..
Ya sudah, aku kerjakan saja pakai rumus ini. Mudah-mudahan ini adalah kemudahan dari Allah. Jawaban atas doa-doaku sebelumnya..
Maka tiga puluh menit berikutnya, aku sudah sangat sibuk mengerjakan soal-soal teori medan yang sejak dari tadi tidak juga berhasil aku ingat rumusnya. Tiga puluh menit seakan waktu yang sangat singkat, bahkan seakan kurang, karena aku berhasil mengerjkan hampir semua soal teori medanku dengan baik.
Nah, sudah semua. Alhamdulillah. Ya Allah terima kasih telah memberiku kemudahan. Aku sudah mengerjakannya dengan sempurna, dengan upayaku yang paling baik, maka berikanlah hasil yang terbaik yang Engkau ridhoi YaAllah. Bismillah, aku sudah mantap untuk mengumpulkannya.
Selesai sudah waktu pengerjaan soal ujian teori medanku. Semua mahasiswa mengumpulkan lembar jawaban mereka. Seperti biasa aku keluar paling akhir, sembari mengemas ballpoint dan peralatan tulisku yang lain. Sudah sepi, saat aku langkahkan kakiku keluar tidak ada yang aneh. Tapi begitu pintu kelas sudah aku lewati, bisikan itu kembali mengusik hatiku.
Istighfar Wan, istighfar. Kamu sudah berbuat dosa kali ini. Reputasi yang sudah kamu bangun selama dua tahun menjadi mahasiswa yang tidak mau curang saat ujian, menjadi mahasiwa yang jujur hapus sudah. Saat ini kamu suah menjadi mahasiswa curang. Tinggal tunggu hasilnya saja dari Allah. Tinggal tunggu Allah menurunkan urusannya padaMu.
Yang lebih aneh lagi, bisikan kedua yang sejak tadi membelaku sekarang sudah tidak ada lagi. Seakan dia juga mengiyakan bisikan yang pertama. Lenyap entah kemana.
Waktu-waktu berikutnya, hatiku menjadi sangat gundah. Entah bagaimana,yang jelas perasaan bersalah itu mulai merasuk dan mulai mengerutkan keningku. Aku mulai berkeringat lagi. Kuingat-ingat lagi bisikan-bisikan yang tadi membuatku bingung.
Terus kuingat-ingat, sambil aku langkahkan kakiku menuruni tangga keluar gedung A ini. Dan lamunanku itu tersadar ketika suara adzan dhuhur terdengar syahdu dari menara Syamsul 'Ulum.
Allohu akbar allohuakbar ....Allohu akbar allohuakbar ....
Ya Rabb, aku sudah melakukan dosa hari ini, lantas bagaimana aku harus berbuat untuk menghapusnya ya Rabb. Sepertinya tidak mungkin aku kembali ke petugas penjaga ujian tadi dan mengatakan bahwa aku telah curang. Atau aku katakan saja pada Dosenku bahwa aku curang..
Ah, sepertinya ide yang bagus, nanti aku akan cermati lagi setelah sholat dhuhur... Ya Allah berikan aku jalan keluar yang paling baik.. amin..
next part 4

0 komentar:
Posting Komentar