Kue itu, satu harapan Saya

on Minggu, 01 Maret 2009

Nda dimakan pak erik, sedang puasa ya ? , tanyaku ingin tahu

Nda pak, sedang nda pingin saja, saya simpan untuk nanti, jawabnya singkat.

Pagi begini biasanya suasananya agak mendung, tapi hari ini alhamdulillah tidak. Pagi itu, cuaca cukup cerah sehingga aku bisa memandang dengan cukup jelas keluar pesawat. Perjalanan ke Jogjakarta ditempuh dalam waktu kurang dari satu jam dari Surabaya.

Setelah melewati deretan gunung-gunung di jawa tengah, kota Jogjakarta sudah terlihat.

Hmm,sebentar lagi sampai pak erik, tuh kota jogja sudah kelihatan. Tampak seperti kota eropa ya, bangunan-bangunan rumahnya kecil dan tua.

Iya pak.. memang mirip-mirip kota Eropa, apa karena dulu daerah jajahan Belanda kali ya..

Sejenak kemudian kulihat pak erik sibuk menyiapkan barang bawaannya. Tak lupa, kotak kue jatah dari pesawat inipun disimpannya. Pesawat berhasil mendarat dengan sempurna. Alhamdulillah, jadi ngeri kalau ingat di bandara ini dulu sebuah pesawat terbakar karena lewat dari landas pacu ketika mendarat tidak dengan sempurna.

Sesampainya di bandara Adisutjipto, kami segera menuju counter taxi terdekat untuk memesan satu taxi untuk mengantar ke hotel tempat kami menginap. Tidak ada yang istimewa sampai disini. Sampai beberapa saat kemudian setelah kami berada dalam taxi, pak Erik terlihat agak serius memandangi sepanjang jalan perjalanan kami ke hotel.

Sepertinya bukan kali pertama pak Erik berkunjung ke Jogja ini, namun aneh, entah ada apa yang sedang dicarinya. Setiap lampu merah, sepertinya dia gelisah. Putar badan ke kanan, kiri.

Ada yang bisa saya bantu pak ?, tanyaku agak heran.

Nda pak, trima kasih, lagi-lagi jawabnya singkat.

Ah. Sudahlah, lebih baik aku sandarkan badanku. Lumayan, sampai beberapa saat nanti aku sampai di hotel.

Tiba-tiba sebelum aku merasakan nyamannya sandaran badanku, kulihat pak Erik dengan buru-buru membuka kaca jendela taxi.

Bu.. bu..ini bu, segera pak Erik mengeluarkan bungkusan yang sudah dari tadi dipegangnya.
Matur suwun den, matur suwun...

Spontan ibu pengamen itu menerima dan menjawab dengan senyumannya.

Kejadian itu begitu cepat, karena memang lampu hijau segera menyala dan taxi kembali meluncur. Kulihat sedikit raut kecewa di muka pak Erik, namun sekarang dia sudah kelihatan lebih santai.

Sudah tidak lagi tengok sana sini juga sudah menyandarkan bandannya di kursi taxi.

Oh.aku tahu, dari tadi pak Erik, ternyta sedang menunggu untuk bisa memberikan kue yang sudah sejak lama disimpannya sewaktu dipesawat. Kue jatah dari pesawat yang tidak dimakannya tadi, sepertinya sengaja dia simpan untuk diberikan ke pengamen yang biasanya banyak berada di perempatan-perempatan jalan.

Pak Erik, masih ada yang dipikir kelihatannya ? tanyaku pingin tahu..

Ko, bapak tahu sih ?

Ya, muka pak Erik yang memebri tahu saya..

Wah, bisa saja bapak ini..

Iya pak, waktu saya berikan kue tadi, air minum gelasanya tidak keburu saya berikan. Taxinya sudah berangkat lagi. Kasihan, setelah makan kue tadi seharusnya bisa sekalian minum air ini.

Jawabnya sambil membawa air minum kemasan gelas, yang ternyata adalah juga air minum jatah dari pesawat kami tadi.

Wah pak, repot-repot amat sih pak Erik,..

Belum sempat aku lanjutkan pikiranku ini, pak Erik sudah berujar..

Lumayan pak, kue itu satu harapan bagi saya..

Kelak ketika semua 'amal perbuatan di pertunjukkan di akhirat. Dihitung dan ditimbang, saya berharap, kue tadi menjadi salah satu yang menyebabkan beratnya timbangan 'amal kebaikan saya..

Saya agak getun 1, kenapa tadi air minumnya nda saya siapkan, shingga sekalian bisa di berikan. Sekalian bisa nambah beratnya kelak di akhirat.

Ya Rabbi, Engkau berikan pelajaran pada perjalananku kali ini, Jadikanlah aku termasuk orang yang bisa mengambil hikmahnya, dan mampu mengamalkan kebaikan itu dalam sisa hidupku ini.

Seperti diceritakan oleh seorang teman, dengan sedikit perubahan tata bahasa dan personifikasi, tanpa menghilangkan esensi cerita yang hendak disampaikan. Betapa mulia, satu kebaikan yang mungkin orang lain anggap sebagai sesuatu yang sangat merepotkan diri sendiri, atau bahkan tidak pernah terpikirkan untuk kita lakukan.

1 getun ( jawa) = kecewa

0 komentar:

Posting Komentar