Sakit perut.. menuju hidayah..[ bag. 3]

on Sabtu, 14 Maret 2009

bismillaahirrohmaanirrohiim

Ah. mungkin hanya kebetulan saja..

Tapi ternyata pendapatku ini salah.. minggu berikutnya aku benar-benar mengetahui, hikmah dari apa yang telah aku alami hari ini..


Hari senin, munurut emailku kemarin, aku ada undangan meeting hari ini dengan para GM. Jam 10 aing di Malang. Bertempat di Malang, aku harus berangkat pagi ini. Perjalanan ke Malang biasanya 2 jam. Tapi kalau macet di jalan bisa lebih lama.

Sesampainya di terminal, segera aku pilih bis Patas Jaya, biar cepet sampai. Sekitar sepuluh menit setelah menunggu jadwal keberangkatan, bis melaju dengan cepat menuju kota Malang. Pukul tujuh tepat. Istirahat sejenak, melanjutkan tidur pagiku yang kurang, sepertinya bisa aku lakukan. Dinginnya AC membuat kantukku semakin membuatku sebera terlelap.

Hmm... sudah dimana aku, kulihat jam tanganku. Sudah jam tujuh empat lima. Berarti sudah empat puluh lima menit perjalananku. Masih satu jam lebih sisanya. Kucoba menyandarkan kembali tubuhku pada kursi.

Namun tiba-tiba, perutku terasa sakit. Mules..

Aduh.. kenapa tiba-tiba perutku sakitya.. mana masih dijalan nih.. mau tunaikan dimana kalau begini. Ya Allah.. ko sakit sekali ya..


Kurasakan semakin mules dan "maaf" sudah tidak tertahankan lagi. Segera aku berdiri dan menghampiri pak kondektur.

Pak, saya turun disini saja pak, nanti kalau ada masjid atau POM Bensin saya turun ya. Saya sakit perut dan tidak bisa ditahan-tahan lagi.

Iya.. pak, baik.

Tidak lama kemudian, terlihat ada sebuah masjid yang cukup megah disebelah kiri jalan. Tanpa pikir panjang, akupun kembali meminta pak kondektur yntuk berhenti..

Pak, pak,, udah di masjid depan itu saja pak.. tolong saya turun disini saja..

Tapi, ntar lama nda pak.?

Udah nda usah ditungguin pak, ditinggak saja,, saya nanti naik bis lain..

Tapi uangnya nda bisa dikembalikan.

Nda papa udah pak, ambil saja, toh Malang sudah sebentar lagi sampai..

Ok deh..pak.. yooo kiri-kirriii

Segera akupun turun dan bergegas menuju masjid itu. Tidak terlihat penjaga masjid, aku jadi bingung meski aku titip dimana barang-barangku. Tas Laptop dan barangku yang lain.

Ahh, sudahlah aku gantung saja dekat toilet..

Segera aku menuju toilet tepat disebelah tempat wudhu masjid. Buru-buru aku gantungkan semua barangku di gantungan tempat wudhu, dan aku segera menunaikan keperluanku.
Alhamdulillah, meski sedikit terjadi insiden, tapi aku senang bisa menunaikan keperluan perutku. Dana yang lebih lagi, meski barang-barangku tidak aku titipkan, dia tetap berada ditempatnya. Meski tadi aku sempat takut, kalau-kalau hilang.

Trima kasih ya Allah, aku sudah terbebas dari sakit perut ini.. Segera akupun menuju jalan raya dan kutunggu bis berikutnya. Lama aku menunggu tak juga aku dapatkan bis. Atas nasehat tukang sayur yang baru lewat akupun naik angkot ke arah malang agar lebih cepat sampai. Karena ternyata, malang sudah dekat.

Sesampainya di hotel tempat perusahaanku mengadakan pertemuan. Aku segera menuju lobi, melakukan cek in kamar dan segera kutuju kamarku.

Jam sepuluh kurang lima menit. Aku telpon atasanku yang sudah lebih dahulu hadir, dan dia menyatakan. Rapat diundur kira-kira setengah jam.

Alhamdulillah. aku masih bisa bersih-bersih dan ganti pakaian. Setengah jam kemudian aku sudah menuju ruang meeting dimana para Manager dan GM sudah terlihat berkumpul. Saling sapapun berlangsung hangat dan seperti jadwal semula, jam sepuluh tiga puluh kami diminta masuk ruangan meeting.

Sepuluh menit berjalan, perutku kembali sakit. Mules melilit tak tertahankan. Namun sebentar kemudian berhenti.

Ya Allah, jangan sampai nanti saat aku presentasi, perutku kembali sakit. Segera aku minta ijin keluar dan membeli obat di drug store Hotel ini.

Lima menit aku sudah kembali ke ruang meeting.

Berikutnya giliran pak Dani. Silahkan pemaparannya pak.

Moderator meeting memanggilku untuk melakukan pemaparan sub divisiku. Segera aku kedepan dan memulai memaparkan slide demi slide yang sudah aku persiapkan empat hari ini.

Lima belas menit berlalu, semua berjalan lancar. Namun saat mulai masuk ke pemaparan inti dari slideku, perutku kembali sakit. Ya rabbi... ko kembali sakit ya,.

Aku tahan-tahan dan kuteruskan pemaparan. Namun kondisiku yang "kritis" ini sepertinya dipahami oleh managerku.

Pak Dani sakit ya.. ko pucat sekali wajahnya... dan berdirinya nda tegak.. bagai mana pak Dani ?

Hmmm, bagaimana ya.. aku jawab atau tidak...

Iya pak, daritadi pagi berangkat perut saya mules banget dan sekarangpun kembali mules pak. Mohon maaf. Apakah boleh saya ijin ke rest room sebentar.

Para hadirinpun tertawa dan sang moderator kemudian berkomentar..

Ya.. karena pemapar kita sedang sakit perut. Pemaparan sesi ini kita break lima belas menit. Bagaimana pak Dani cukup ?

Iya pak, cukup insyaAllah.. trima kasih. Sementara saya akhiri dulu..

Segera aku menuju kamar dan singkatnya ..Segera kembali aku tunaikan hajatku. Aku tak habis pikir, kenapa akhir-akhir ini perutku terus menerus sakit bahkan dikala saat-saat pentingpun aku harus malu karena ijin sakit perut.

Segera aku kembali ke ruang meeting dan sesuai wajtu yang diberikan, kira-kira lima menit kemudian akupun kembali memaparkan presentasiku.

Alhamdulillah, hari itu sakit perutku tidak kembali terulang. Terakhir saat aku tadi menyampaikan presentasiku. Malam harinya pun sebelum aku tidur, sku sempat kembali memikirkan kejadianku akhir-akhir ini. Sampai pada suatu titik pencerahan..

Mengapa selama ini aku sulit untuk menunaikan sholat tepat waktu dengan alasan yang macam-macam. Namun aku bisa menunaikan hajatku dengan segera tanpa harus melihat alasan apa yang menghalangiku.. Bahkan saat aku naik bis, aku rela turun dan memilih baik angkot berikutnya karena tidak tertahannya hajatku.

Atau saat aku harus memeberikan presentasi di depan para manager dan GM perusahaan ini. Akupun rela malu dan ijin untuk menunaikan hajatku. Lantas.. kenapa aku malu untuk minta ijin sholat seperti si Wawan temanku yang selalu meminta ijin untuk sholat. Meski dalam meeting sepenting apapun..

Untuk urusan perut ini saja, aku berani.. lantas untuk keperluanku yang jauh lebih utama, menghadap Allah, kenapa aku meski takut ?

Dan Allah menujukkan kepada Jalan yang Lurus bagi orang-orang yang dikehendaki-Nya

Dan

KehendakNya.. [bag 2]

on Sabtu, 07 Maret 2009

bismillaahirrohmaanirrohiim

Segera Donipun mengeluarkan soal ujiannya dan kamipun sangat terkejut…

Lho, Don ko soalmu begitu sih..

Begitu apaan dik ?

Agak beda kelihatannya dengan soalku..

Beda apanya dik ? yang bener saja sih.. Doni semakin penasaran dengan jawabanku.

Akupun segera mengeluarkan soal ujianku. Sekilas, memang tidak ada yang beda dengan dua lembar soal ini. Pertanyaan semua nomor sama. Hanya memang, "multiple coice answernya" ini yang kemudian menghentak kami berdua.

Soal ini berbeda !!!

Keringat dingin keluar dari dahi kami berdua, dan kamipun saling memandang.

Don, suwer don, aku nda tahu kalau soalnya beda.. Aku kira semua sama, karena tidak ada kode pembeda soalnya.

Coba dik, kita amati lagi, apa yang membedakan soal kita ya...

Sempat agak lama, kami mengamati perbedaan dari soal kami berdua. Kami tidak merasa mengisi ada kode soal, yang akan mengingatkan kami bahwa soal kami berbeda. Lantas apa yang akan menjadi pembeda bagi tim penilai untuk mengetahui nilai kami ?

Disaat kegundahan yang mulai menyesakkan dada kami itulah kemudian Doni ingat akan satu hal.

Dik, ingat nda kamu. Soal ini dibagi sebendel dengan lembar jawabannya.

Apa maksudmu Don..

Biasanyakan soal terpisah dari lembar jawaban dan selalu dibagikan bergantian. Tapi kali ini, lembar jawabannya sudah berada dalam soal yang dibagikan. Dan semua peserta mendapatkan yang sama.

Saat itu Doni kemudian sibuk mengamati soalnya kembali dengan seksama, dan kemudian berdecak.

Soalnya beda Dik, ini yang membedakannya..

Doni kemudian menunjuk deretan abjad dan angka yang ada di footnote soal kami. Memang sekilas, foot note tersebut sama, kecuali empat karakter terakhirnya.

Dan kamipun menjadi yakin, bahwa lembar jawaban yang sudah dibagikan bersama dengan lembaran soal ini sudah mempunyai kode footnote yang sama.

Pandai, memang dengan demikian para peserta ujian tidak akan menyangka bahwa soalnya berbeda. Karena mereka tidak mengisi kode soal. Yang perlu dipastikan adalah pengawas harus menyerahkan soal dan lembar jawaban yang sudah dibendel kepada orang yang sama.

Kira-kira satu bulan setelah ujian tersebut, aku mendapatkan surat pemberitahuan bahwa aku diterima di PTS tersebut. Saat itu akupun segera bertanya kepada Doni, berharap diapun menerima surat yang sama.

Namun, sampai batas waktu konfirmasi daftar ulang. Doni tidak menerima surat panggilan sebagaimana aku terima..

Ya rabbi.. ampunilah kesalahan kami.
Amiin

KehendakNya...

on Jumat, 06 Maret 2009

Bismillaahirrohmaanirrohiim

Segera setelah aku siap berangkat, aku telepon Doni untuk segera bersiap karena sebentar lagi aku akan jemput.

Don, siap ya. Aku sudah selesai sebentar lagi aku jemput. Tunggu didepan rumah ya..

Sebentar kemudian aku sudah meluncur menuju rumah Doni. Dua kilometer. Tidak terlalu jauh, tapi aku harus segera, karena arah rumah Doni berlawanan dengan arah tempat Ujian kami hari ini.

Hari ini kami berdua akan menjalani tes ujian masuk satu perguruan tinggi swasta. Kami bertekad untuk bisa lulus bersama. Doni adalah karibku, sudah dua kali ini kami menjalani tes masuk perguruan tinggi bersama. Yang pertama, aku berhasil namun Doni gagal dan yang kedua ini aku bertekad untuk bisa membantu Doni mengerjakan soal ujian dan berharap kami bisa lulus bersama.

Don, sudah siap ya. Jangan lupa bawa pencil 2Bnya ya, penghapus, penggaris, kalkulator. Sudah semua..

Sudah Dik, sudah semua. Sudah siap, ayo buruan berangkat. Sudah siang nih. Kita jangan terlambat biar bisa lebih prepare disana.

Segera, setelah semua siap dan diperiksa, kamipun berangkat. Diperjalanan menuju tempat ujian kami banyak berbincang mengenai persiapan kami tadi malam. Mulai dari belajar matematika, bahasa inggris juga bahasa indonesia. Maklum, tiga mata pelajaran ini yang akan diujikan pada kami hari ini.

Sekitar tigapuluh lima kilometer kami tempuh dalam waktu lebih dari satu jam. Kami akhirnya sampai di tempat ujian yang pada beberapa hari sebelumnya sudah kami survey. Menempati salah satu ruangan serbaguna IKIP Surabaya.

Setelah menunggu beberapa saat, kami bisa melihat panitia dan pengawas yang datang dengan membawa soal-soal ujian dalam amplop coklat besar. Para pesertapun masuk dan segera menempati posisi sesuai dengan nomor tes yang sudah diberikan saat daftar ulang.

Siap ya Don, jangan lupa ya.. Sambil kuberi kode, Donipun mengiyakan isaratku.

Doni duduk tepat dibangku belakangku. Dengan posisinya itu, sangat strategis bagi kami untuk saling membantu dalam mengerjakan soal ujian. Dua jam setengah. Waktu yang tidak terlalu lama untuk mengerjakan seratus soal ujian. Pukul sembilan tepat, kamipun dipersilakan mengerjakan soal-soal ujian kami.

Duh, soalnya kok beda banget dengan perkiraanku ya. Agak lebih sulit, tapi sepertinya aku bisa mengerjakannya.

Jam tanganku menunjukkan pukul sepuluh lebih tiga puluh menit. Sudah satu jam setengah kami mengerjakan soal. Sesuai kesepakatan dengan Doni, satu jam setengah kami akan mengerjakan semua soal sendiri-sendiri. Baru setelahnya aku akan meberikan jawabanku pada Doni.

Sebenarnya Doni bukanlah anak yang tidak cerdas. Dikelas saja dia biasanya peringkat dua atau tiga, setelah aku. Namun, kami sepakat untuk saling membantu agar tetap bisa bersama di perguruan tinggi ini.

Segala trik kami lakukan untuk bisa saling memberikan jawaban. Saling mengawasi, jangan lengah, dan jangan sampai ketahuan pengawas. Karena bisa di Diskualifikasi.

Satu jam lebih kami melakukan aksi contek mencontek ini. Dan berhasil dengan baik. Pengawaspun terkesan diam saja, meski terkadang memergoki kami sedang bertukar jawaban. Aneh..

Don, udah selesai Don.. tanyaku pelan.

Sudah Dik, tapi jawabanmu ko aneh ya. banyak yang nda cocok sama pilihanku.

Udah Don, kerjakan saja. Aku yakin benar. Wong soalnya mudah ko..

Akupun berusaha meyakinkan Doni akan jawabanku. Karena memang aku yakin, sebagian besar jawabanku benar.

Tepat dua jam setengah, pengawas dan panitia mengumpulkan kertas jawaban kami. Dan kamipun segera berhambur keluar.

Wajah-wajah peserta terlihat berbeda. Ada yang terlihat sangat senang dengan cerita keberhasilannya mengerjakan soal. Ada juga yang murung karena merasa soalnya terlalu sulit.

Dik, kamu ko aneh sih.. masak jawaban nomor satu B. Bukannya C.

Ah, yang bener Don.. apa sih pertanyaannya..?

Pertanyaan nih Dik, Some one who deliver the letter called ?

PostMan, jawabku segera..

Yah, kamu jawabnya Carpenter. Kamu kan jawab B, B itu Carpenter Dik..

Nda Don, aku jawab PostMan, tapi aku lupa B atau C.

Segera Donipun mengeluarkan soal ujiannya dan kamipun sangat terkejut...

Bersambung..

Sakit perut.. menuju hidayah.. [bag 2]

on Kamis, 05 Maret 2009

bismillahirrohmaanirrohiim


Lho Dan, alhamdulillah nih Dan. Kemajuan besar. Kamu bisa sholat awal waktu..


Iya Wan, tadi kan kamu yang ajak..


Wawanpun tersenyum, padahal kebetulan saja Wan, sambil menunaikan hajatku.. pikirku..


Tak terasa sudah sudah hampir jam tiga sore. Dua jam lagi pulang nih.. Tugas-tugasku sudah kuselesaikan semua, tinggal beberapa laporan untuk presentasiku minggu depan perlu aku siapkan.


Dan, ayo Dan,, kamu tadi sudah berhasil sholat dhuhur tepat waktu.. sekarang sudah ashar nih..


Ok wan, aku menyusul ya...


Menyusul nanti saja, maksudku. Hi hi. sambil tersenyum aku berpikir sholat ashar. Ntar juga bisa. Tanggung banget ini mau aku selesaikan satu lembar laporanku.


Duh, angel temen sih* ko nda bisa-bisa hitungannya ya. Kenapa nih.. apa komputernya ngehang..


Walah walah.. datang lagi. Aduh.. mules banget perutku..


Langsung tanpa pikir panjang segera aku berlari kecil menuju rest room. Sudah tiga kali hari ini aku ke tempat ini. Aduh.. mudah-mudahan ini yang terakhir..


Lagi-lagi setelah itu akupun masih sempat masbuk sholat berjamaah di musholla sebelah rest room ini. Dan lagi-lagi si Wawan meledekku..


Alhamdulillah.. akhuna Dani .. akhirnya sekarang sudah mulai sholat rajin.. Mudah-mudahan istiqomah ya.. amin..


Amin... trima kasih doanya pak Wawan..


Hmm.. nda tahu saja dia kalau aku habis hajatul kubro.. sekalian ke rest room maksudnya.. Hanya saja aku sempat berpikir, hari ini dua kali aku ke restroom justru pada saat yang hampir bersamaan dengan di Wawan ke Musholla.


Bedanya antara rest room dan musholla hanya oleh dinding gedung ini. Tapi dua tempat ini adalah dua tempat yang sangat jauh beda. Bahkan jika adzan dikumandangkan, aku pernah tahu bahwa syetan akan lari terbirit ke kamar-kmar mandi, restroom semacam ini. Sedangkan orang-orang sholeh mendatangi musholla.


Ah. mungkin hanya kebetulan saja..

Tapi ternyata pendapatku ini salah.. minggu berikutnya aku benar-benar mengetahui, hikmah dari apa yang telah aku alami hari ini..

( afwan.. brsambung dulu ya )

Sakit perut.. menuju hidayah..

bismillahirrohmaanirrohiim

Pagi itu seperti pagi yang lain, sambil berkendara sepeda motorku ini, aku pergi ke kantor. Tidak ada yang istemewa, kecuali hari ini adalah hari kamis.

Tiga puluh menit aku butuhkan setiap hari untuk sampai ke kantorku. Pagi itu,sesampainya dikantor, segera kubuka email.

Ada berita penting nih, undangan meeting dengan para GM perusahaan. Hari senin depan.Empat hari lagi. Kubaca surat masukku yang lain dan segera kuselesaikan tugasku, yang kemarin masih pending.

Ah, perutku rasanya lapar sekali. Tadi berangkat belum sarapan. Sepertinya aku harus pesen sesuatu untuk sarapan.

Mas, Jon. Bisa minta tolong sebentar.

Iya pak, ada yang bisa saya bantu ?

Si Jonar office boy kantorku dengan sigap segera menghampiriku.

Iya pak, bagaimana pak.

Minta tolong ya mas Jon, saya lapar sekali nih. Bisa minta tolong dibelikan mie goreng dan pesen Milo hangat ya.

Baik pak, Milonya tanpa Gula ?

Iya, mas, seperti biasa, ini uangnya.. Hm, sekalian beli dua ya mas mienya. Dua bungkus.

Baik pak.

Segera Jonar pergi meninggalkanku. Wah, perutku sudah keroncongan nih, atau malah rock-rockkan. Mudah-mudahan si Jonar nda lama. Lima belas menit kemudian, Jonar datang dengan membawa dua bungkus mie dan satu gelas Milo Hangat.

Alhamdulillah.. sudah datang ya mas..

Mohon maaf pak, agak lama ya nunggu. Antre pak..

Ya mas, nda papa. Ini mie yang satunya untuk sampeyan,

Aduh pak, nda usah repot-repot. Trima kasih pak..

Eh, mas Jonar nda boleh nolak Rizki lho.. udah, ini ikhlas.

Nda usah pak, sudah tugas saya disini termasuk melayani semua kebutuhan pegawai. Dan saya sudah dapat gaji bulanan lho pak.

Si jonar dengan sopan menolak pemberian mieku ini. Memang dia OB yang baik. Tidak suka menerima tips, karena memang dia sudah dibayar untuk kami.

Mas Jonar ini, ya sudah mas, begini saja. Makan berdua sama di Cip ya. Pasti mau..

Baiklah pak kalau begitu, terima kasih ya pak..

Akhirnya diterima juga. Se jurus kemudian aku sudah berhasil menenangkan perut ini dengan sebungkus mie goreng dan Segelas milo hangat.

Baiklah, kulanjutkan kerjaanku. Ketik sana, ketik sini sebentar kemudian.

Eiit, prutku mulai bereaksi. Mules banget..wah.. apa gara-gara mie goreng ya. Aku coba tahan tapi nda kuasa. Segera aku menuju rest room di kantor ini dan kutunaikan tugasku. Hmm. lega.

Jam kantor sudah menunjuk pukul setengah dua belas. Tugas dari atasanku sudah aku kerjakan. Apalagi ya. Browsing dulu ah, cari informasi sebelum istirahat.

Dan, ayo sholat dulu Dan. Sudah adzan dhuhur nih. Buruan jamah di musholla kantor ya..

Ya, Wan. Duluan deh, aku nanti saja menyusul.

Kamu ini Dan, browsing saja sempat. Ini panggilan sholat malah nanti saja dulu.

Si wawan pun pergi sambil menggerutu.
Dalam hatiku berkata, sholat dhuhur kan waktunya panjang, bisa nanti saja setelah makan siang.

But, aduh. Apa lagi ini.. perutku mules lagi, aduh.. aduh.. Segera kutinggalkan meja kerjaku menuju restroom. Sekilas sebelm aku masuk ke rest room, aku melihat teman-teman kantorku sedang akan melakukan sholat berjamaah. Musholla kantor ini memang searah dengan rest room.

Setelah aku selesai, akupun berpikiran untuk sekalian melakukan sholat. Aku berwudhu dan masih bisa ikut jamaah, meski hanya dapat rekaat terakhir..

Lho Dan, alhamdulillah nih Dan. Kemajuan besar. Kamu bisa sholat awal waktu..

Iya Wan, tadi kan kamu yang ajak..

Wawanpun tersenyum, padahal kebetulan saja Wan, sambil menunaikan hajatku.. pikirku..

... bersambung

Alhamdulillah, Aku dapat nilai D ! (4 habis)

on Senin, 02 Maret 2009

bismillaahirrohmaanirrohiim

Ah, sepertinya ide yang bagus, nanti aku akan cermati lagi setelah sholat dhuhur… Ya Allah berikan aku jalan keluar yang paling baik.. amin..

Setelah sholat dhuhur, ternyata pandangan lain tentang penyelesaian masalahku ini muncul kembali. Entah bagaimana, tiba-tiba saja aku sangat takut. Pertama, takut dianggap sok pamer, mana ada jaman begini mahasiswa mengaku nyontek. Atau malah dianggap sok suci.

Rasanya sulit sekali mengambil keputusan apa yang harus aku lakukan. Ya Rabb, berilah aku kemudahan jalan keluar. Ide yang semua aku anggao bagus akhirnya tidak jadi aku lakukan. Ditenga-tengah kebimbangan itulah kemudian aku ingat, bahwa jika seorang muslim mengalami kesulitan, kemudian dia sholat dua rakaat dan kemudian berdoa memohon pertolongan Allah. Maka pasti Allah tolong.

Sepertinya inilah yang harus aku lakukan. Kuambil lagi air wudhu. Ku niatkan ikhlas karena Allah, dan kumulai untuk bermunajat dalam sholatku.

Ya Rabb, aku tengah berada dalam kebimbangan. Aku sudah melakukan kecurangan dalam ujianku. Bagaimana jika nanti aku berhasil mendapatkan nilai yang lebih baik dari nilaiku sebelumnya. Bagaimana jika nanti nilai teori medanku B atau bahkan A. Pastilah hasil kuliahku, ijazahku akan tercampur dengan suatu yang tidak barakah.

Terus saja kupanjatkan doa. Aku mengadu, dengan bahasaku, dengan semua keluh kesahku. Sampai kemudian tidak terasa, basahlah pipiku dengan tetesan air mata.

Ya rabb, aku tidak ingin hasil kuliahku tercampur dengan nilai yang tidak barakah ya Rabb. Aku takut, jika kemudian dengan hasil yang tidak barakah ini, aku kemudian mendapat pekerjaan dan gaji yang aku dapatpun akan menjadi tidak barakah. Bagaimana akan barakah kerjaku, jika kerjaku itu dimulai dengan kecurangan. Ya Rabb berikanlah yang terbaik bagiku.

Setelah selesai aku berdoa, himpitan yang tadi mendera dadaku sedikit berkurang. Aku Sedikit merasa lega. Aku sudah bisa menyesal. Semoga jika nanti hasilnya keluar aku akan mendapat yang terbaik. Terbaik dari Allah... amin.

Hari-hari berikutnya aku jalani dengan penyesalan yang dalam. Hampir aku menjadi demotivasi karena memikirkan hal itu. Bagi teman-temanku mungkin hal ini adalah biasa.

Yang namanya nyontek itu udah keahlian mahasiswa Wan. Nda usah terlalu dipikirin. Lagian sudah takdir kamu nyontek, mau apa lagi ?

Perasaan bersalah ini terus menerus membebaniku. Sampai beberapa hari, aku berusaha terus berdoa kepada Allah agar diberikan solusi yang terbaik. Alhamdulillah, akhirnya aku pasrah juga kepada Allah.

Ya Rabb,aku sudah memohon ampun atas kesalahanku, aku mohon agar Engkau pilihkan yang terbaik bagiku. Jika aku mneghadap dosen dan melapor, aku malu ya Allah. Maka, tutupilah kesalahanku ini, sebagaimana Engkau berjanji akan menutup kesalahan orang-orang yang bertaubat kepadaMu atas dosa-dosanya.

Satu minggu, dua minggu, akhirnya sampai juga pada hari-hari pengumuman hasil ujian semester akhir tahun itu. Hatiku kembali berdebar-debar.

Ya Allah, kuatkanlah aku menghadapi keputusanMu. Berikanlah yang terbaik ya Allah.

Kuulang-ulang terus doa ini. Sampai kemudian ada khabar dari seorang sahabatku.

Wan, udah keluar tuh nilai teori medan. Kemana saja kamu.Nda pingin lihat ya. Ada di depan BAAK. Pojok kanan atas papan pengumuman. Nilainya bagus-bagus tuh Wan.

Nilaiku berapa Di ?

Wah aku nda lihat Wan. Aku cuma lihat ada pengumuman. Lagian aku nda ngulang. Jadi nda ngefek untukku.


Segera kemudian aku ambilair wudhu. Kembali aku sholat dua rakaat dan berdoa.

Ya Allah jika nilai B atau A baik untukku, untuk agamaku, hidup dan akhiratku maka berikanlah kemudahan. Barakahkanlah ya Allah. Jika tidak baik untukku, maka gantilah dengan yang terbaik. Dan jadikanlah aku ridho dengannya. amin

Segera aku kemasi tasku dan dengan sedikit terburu aku berjalan menuju kampusku. Kali ini, hanya ada satu tujuanku. Melihat nilai Teori Medan di depan BAAK.

Degup jantungku semakin keras, apalagi ketika atap gedung BAAK itu sudah terlihat. Ya Allah, Ya Rabb.. aku terus berdoa..

Banyak mahasiswa yang sedang melihat hasil ujian rupanya. Rata-rata kelasku. Tempat aku mengulang teori medan.

Wan, nilainya bagus-bagus wan..

Waduh, semakin kencang saja degup jantungku.

Sudah sampai ku didepan papan pengumuman. Kupejamkan sebentar mataku.

Ya Rabb, berikanlah yang terbaik. jadikan aku ridho dengan hasil ini ya Allah. Bismillah.

Kubuka pelan mataku dan pandanganku mulai tertuju kepada deretan nama-nama yang terpampang dipapan itu.

Arman C, Neni D, Leli E, ..D,D,D,C,C,C,D..

Wawan, D!!! Wow...Nilaiku D!!! Alhamdulillah nilaiku D, nilaiku D..

Hey wan, dapat nilai D saja senang. Teriak-teriak lagi. Apaan tuh.

Ya,ya maaf ya... sorri.

Dalam hatiku,berguman, .. belum tahu dia.

Alhamdulillah, aku dapat nilai D. Aku yakin ini adalah yang terbaik dari Mu Ya Allah. Puji Syukur atas nilai D ini..

Terus-terus wan. Jadinya kamu dapat C dong. Kan sudah pernah dapat C dulunya ?

Ya, ntar dulu ya,
Ceritanya belum selesai. Masalahnya nda semudah itu. Dikampusku bukan nilai yang terbaik yang digunakan untuk di transkrip nilai. Tapi nilai yang terakhir. Jadi saat itu akumasih dapat D. Masih ada kelanjutannya.. ntar lain kali aku ceritain ya..



Tips menghindari riya'

Bismillaahirrohmaanirrohiim

Setelah beberapa hari digalang dana untuk Gaza dari kantor saya, alhamdulillah, sampai hari ini sudah terkumpul kurang lebih 5 juta lebih. Dalam aksi solidaritas tersebut sempat ada diskusi-diskusi yang mudah-mudahan bermanfaat untuk saya posting disini.

Salah satu diskusinya adalah tentang Riya' dalam beramal dan tips untuk menghindarinya.

Saat akan melakukan 'amal sholeh, terkadang seseorang terkendala untuk melakukannya segera dengan berbagai macam alasan. Dan alasan yang terkadang muncul untuk mensegerakan beramal adalah riya'.

Oleh karenanya,

Pertama, saat akan melakukan ‘amal sholeh, maka lakukan saat itu juga dan jangan ditunda-tunda.

Kedua, jika ada bisikan, “nanti saja disana, atau begini dan begitu saja, biar nda dibilang orang riya” maka hendaknya berhati-hati, karena ini bisa merupakan bisikan syaithon yang mencoba menggagalkan ‘amal sholeh kita saat itu.

Kemudian ketika kita menundanya karena takut riya, maka bisa jadi, dia syaithon akan mengajak teman2nya yg lain yg lebih “senior” untuk menggoda kita, alhasil orang tersebut tidak jadi melakukan ‘amal sholehnya…

Karenanya jika bisikan itu muncul, yaqinkanlah dalam hati “ sesungguhnya saya takut dan tidak mau riya’ ya Allah terimalah ‘amalku” Kemudian lakukanlah ‘amal sholeh itu segera..

Karena seseorang yang takut dan tidak mau melakukan "sesuatu", insyaAllah dia akan terhindar dari "sesuatu" itu. Bagai mana orang yg takut dan tidak mau mencuri, lantas dia mencuri ?

Ketiga, lupakan segera ‘amal sholeh kita dengan menutupnya dgn mengingat kembali dosa2 lama kita dan segera lanjutkan aktifitas.


Nah, jangan sampai tidak ber’amal karena takut riya’ .

nah loh.. J