bismillaahirrohmaanirrohiim
Khabar ini saya dengar dari seorang guru yang berada di Surabaya. Siang itu beliau bercerita bahwa, satu hari sebelumnya dia didatangi seorang laki-laki yang sudah cukup tua. Kakek ini kemudian bertanya kepada sang guru tersebut.
Pak, kira-kira menurut bapak, dengan melihat kondisi saya yang seperti ini, apakah bapak bisa menebak, apa pekerjaan saya.
Sebentar, berfikir kemudian pak guru ini menjawab dengan seadanya.
Wah kalau melihat kondisi bapak ini, saya tidak bisa menebak, kira-kira apa pekerjaan bapak saat ini. Kalau boleh tahu, apa pekerjaan bapak saat ini di Surabaya pak ?
Sambil sedikit menunduk, laki-laki tua itu mulai mengisahkan perjalanan hidupnya.
Tiga puluhan tahun yang lalu, ketika saya sudah mulai hidup dengan cukup di Surabaya ini. Dua orang tua saya memanggil saya untuk pulang ke kampung halaman saya di Nganjuk.
Bergegas saya pulang dan berharap ada sesuatu yang memang sangat penting sehingga saya dipanggil pulang ke rumah.
Sesampainya dirumah, orang tua saya ternyata sudah menunggu. Dan terkejutnya saya, bahwa di rumah saya juga sudah ada seorang wanita yang sudah juga ikut menunggu. Wanita tersebut adalah anak gadis yang sengaja telah di siapkan untuk menikah dengan saya.
Ya,, wanita pilihan kedua orang tua saya itu sudah siap menikah.
Nak, kamu sudah lama membujang. Ini adalah anak teman bapak dan sengaja bapak undang kesini, untuk bapak perkenalkan denganmu. Kemudian menikahlah kalian.
Mendengar hal tersebut, saya langsung kaget dan saat itu juga saya mengatakan.
Pak, bukan saya tidak mau menerima diasebagai istri saya. Akan tetapi saya sudah punya calon sendiri yang hendak saya nikahi di Surabaya. Saya sudah berencana menikahi seorang janda beranak dua di Surabaya pak. Dan sudah kami rencanakan dalam waktu dekat ini kami akan menikah. Mohon maaf ya pak.
Spontan, bapak saya saat itu langsung marah dan dengan nada tinggi, dia langsung berucap.
Ya sudah !!! Jika kamu tidak mau menikah dengan wanita pilihan bapak ini dan tetap akan menikah dengan wanita pilihanmu, maka tinggalkanlah rumah ini sekarang.
Kembalilah ke surabaya dan aku tidak lagi peduli dengan nasibmu kelak di Surabaya. Biar kamu "mbambung"1 juga aku tidak akan peduli. Sudah pergi sana !!!
Saat itu juga saya kembali ke Surabaya dan seperti rencana saya sebelumnya. Beberapa hari kemudian saya melangsungkan pernikahan saya dengan calon saya. Seorang wanita janda beranak dua. Tidak pernah sedikitpun saya menghiraukan uacapan terakhir bapak saya tersebut.
Awal pernikahan, kami hidup dengan damai. Meski istri saya seorang janda, dia punya usaha kecil yang bisa menjadi sarana penopang kebutahan kami. Saya bekerja dan hiduplah kami layak, selayaknya orang hidup di Surabaya ini. Setahun kemudian, usaha yang dirintis istri saya mulai goyah. Pelan tapi pasti, kami mengalami kebangkrutan.
Sampai pada akhirnya tidak ada lagi yang bisa kami andalkan untuk menopang hidup kami kecuali sebagai peminta-minta, pengemis disalah satu perempatan di Surabaya ini.
Dengan terisak, bapak tua ini meneruskan ceritanya.
Saya adalah seorang pengemis pak. Bersama istri saya, saya sudah menjalani profresi ini tiga puluh tahun. Ini adalah terkabulnya ucapan bapak saya saat itu. Anak-anak sayapun tidak lagi peduli dengan kami. Mereka mencari penghidupan sendiri-sendiri.
Demikianlah pak tua ini terus terisak, didepan pak guru sambil menundukkan pandangannya.
Rekanku sekalian, meski ada sedikit perubahan data, tahun usia dan sebagainya dalam tulisan ini, saya beritahukan bahwa kisah ini adalah kisah nyata. Kisah ini benar-benar terjadi di kota Surabaya.
Ucapan memang terkadang kurang terperhatikan. Terkadang seorang berucap dengan apa-apa saja yang dia mau ucapkan tanpa pernah berpikir, akan apa yang terjadi jika ucapan tersebut menjadi doa dan terkabulkan.
Bapak dari kakek pengemis ini jauh hari, saat kekecewaaanya pada anaknya yang tidak mau menikah dengan pilihannya, langsung berucap sambil marah. Saat itu mungkin tidak terpikir akan terkabulnya ucapan tersebut dikemudian hari. Sampai si kakek ini menyadari, bahwa hidupnya sekarang jadi seorang pengemis adalah terkabulnya doa ayahnya dahulu..
Lantas, apakah kita sekarang yang sudah membaca cerita ini akan menganggap setiap ucapakan kita adalah hal biasa ?
Ya allah, jadikanlah setiap ucapanku adalah ucapan yang benar sampai akhir hidupku.. amiin,
1. mambung (jawa) = mengemis, ngembel
Label: buah jeruk, hikmah, iman, islam, kisah, kisah nyata, nonfiksi, nyata, story
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar